Tetamu Allah Yang Kianat

Firman Allah Taala :

Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, nescaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik – baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang – orang yang berakal’ (Surah Al Baqarah : 197).

Orang yang dipilih Allah SWT dari ratusan juta kaum muslimin untuk menunaikan ibadah haji adalah orang yang sangat beruntung. Punya keistimewaan dan keutamaan yang berpuncak pada syurga yang menantinya jika ia meraih haji mabrur. Namun, ujian dan cubaan yang mengotori kemabruran hajinya juga tidak sedikit. Dari sekian banyak ujian, ada 3 perkara yang disebut dalam ayat di atas yang perlu senantiasa diwaspadai oleh jemaah haji, yaitu rafats, fusuq dan jidal.

Sesungguhnya kemungkaran dan hal-hal negatif selama musim haji di tanah suci cukup banyak. Sehingga tidak benar, persepsi sebahagian orang bahawa Tanah Suci sepi dari kemaksiatan dan kemungkaran. Ketika Al Qur’an hanya menyebut tiga hal negatif tersebut, hal ini memberikan pemahaman kepada kita bahwasanya peluang untuk melakukan ketiga perbuatan negatif itu dalam ‘muktamar’ yang dihadiri jutaan kaum muslimin sedunia dengan beragam warna kulit, bentuk fizikal, suku, bahasa dan adat amatlah besar. Sehingga tidak berlebihan jika ada yang berkomentar, bahawa setiap jemaah haji berpotensi untuk berbuat rafats, fusuq dan jidal, baik pra haji, di tengah penunaian berbagai manasik (ritual) haji mahupun sesudah menunaikan haji, kembali ke tanah air.

Ibnu Jarir dalam kitab Tafsirnya (II/273-279) secara panjang lebar menghadirkan penafsiran para ulama tentang ‘rafats’ yang dapat disimpulkan, bahwa ‘rafats’ adalah jima’ (bersetubuh) dan permulaan-permulaannya seperti bercumbu serta perkataan yang menimbulkan berahi. Lalu ‘fusuq’ adalah semua bentuk maksiat dan larangan-larangan bagi orang yang berihram. Sedangkan ‘jidal’ adalah berbantah-bantahan, saling panggil memanggil dengan gelaran yang buruk dan debat kasar seperti saling mendakwa bahawa apa dilakukan paling baik/benar dan semua perbuatan yang mengundang konflik, kedengkian dan permusuhan. Ketiga hal ini diberi penekanan khusus untuk dijauhi, karena Allah SWT menginginkan jemaah haji untuk melepaskan diri dari segala gemerlap dunia dan tipu dayanya, serta mensucikan diri dari segala dosa dan keburukan. Sehingga terwujudlah tujuan yang diinginkan dari ibadah haji yaitu Tahdzib An Nafs (pensucian jiwa) dan mengarahkannya secara total untuk beribadah kepada Allah SWT semata.

Dan hanya jemaah haji yang mampu menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan negatif tersebutlah yang diibaratkan Nabi SAW seperti bayi yang baru lahir ke dunia tanpa dosa.

Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa yang menunaikan ibadah haji, tidak rafats dan berbuat fasik, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari di saat ia dilahirkan ibunya’ HR Bukhari dan Muslim.

Setelah melarang berbuat keburukan, Allah SWT membangkitkan semangat mereka untuk melakukan kebaikan seraya berfirman, ‘Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, nescaya Allah mengetahuinya’. Dilihat dan diketahui Allah merupakan jaza’ qabla’l jaza’, penghargaan dan balasan dari Allah sebelum balasan yang sesungguhnya. Sehingga memotivasi seorang mukmin untuk semakin banyak memproduksi berbagai macam kebaikan.

Kepada mereka yang bakal menunaikan ibadah Haji, saya mendoakan agar ibadah Haji yang mabrur bakal saudara-saudari perolehi. Kerana dengan Haji yang mabrur, bermakna semakin hampir saudara-saudari dengan Allah SWT. Dan semakin hampir saudara-saudari dengan kasih sayang dan ampunan Allah SWT.

Kepada mereka yang telah pun menunaikan ibadah Haji tetapi masih merasa lazat dengan maksiat dan kemungkaran, tanyalah diri sendiri dengan soalan-soalan dibawah :

1. Adakah aku pergi menunaikan Haji untuk meninggalkan segala yang ditegah Allah dan melaksanakan segala yang diperintah Allah, atau untuk orang memanggil aku dengan gelaran HAJI/HAJJAH?

2. Jika sebelum aku menunaikan ibadah Haji aku melakukan amal maksiat yang mendatangkan dosa, setelah kembali dari menunaikan Haji apakah amalan maksiat itu masih aku lakukan?

3. Adakah aku tahu, jika sekembalinya aku dari Tanah Suci, aku masih melakukan amalan maksiat yang sama, Haji aku bukan Haji yang mabrur?

4. Adakah aku sedar, sebagai seorang yang telah menunaikan Haji, apabila aku melakukan kemungkaran dan menganjurkan program maksiat, ianya menimbulkan fitnah kepada jemaah Haji yang lain?

5. Adakah aku tahu, jika aku masih melakukan kemungkaran setelah kembali dari Tanah Suci, aku sebenarnya telah mengkhianati Allah yang pernah menjemput ku menjadi tetamu-Nya?

6. Adakah aku tahu, jika aku mengkhianati Allah, tempat yang selayak buat aku adalah neraka Allah?

7. Adakah aku tahu, jika aku mengkhianati Allah yang menjadikan aku tetamu-Nya, aku adalah makhluk yang paling hina kerana tidak mensyukuri nikmat Allah yang bersedia melayan aku sebagai tetamu?

8. Adakah aku tahu, sebagai seorang HAJI/HAJJAH, aku tidak sepatutnya membuat mungkar dan tidak sepatutnya mengajak orang lain membuat mungkar?

9. Adakah aku tahu, jika selepas aku kembali dari mengerjakan Haji, aku masih melakukan maksiat malah mengajak orang lain melakukan maksiat, aku sebenarnya bukanlah hamba Allah tetapi aku adalah hamba Iblis?

10. Adakah aku tahu, ke mana hendak aku pergi jika aku ini bukan hamba Allah?

Advertisements

~ by Taufiq Lazyduck on January 8, 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: